Dopamin Adalah Ujian

Aku baru sadar, bahwa sebenernya ujian yang ditimpa ke kita itu semakin kuat seiring kita menguat. Banyak ujian-ujian tertentu yang diberikan ke orang yang punya “akses” ke ujian itu. Contohnya aku, selama tinggal di rumah, sholat selalu aman. Tapi kalo di luar negeri yang mayoritas non-musllim? Itu ujian buat orang yang privileged bisa jalan-jalan.

Ujian itu banyak banget bentuknya, semuanya dalam bentuk kesenangan duniawi. Dalam bentuk yang ketika hal tersebut diberikan ke manusia, akan membuat manusia tersebut terlena dan menikmatinya sampai melupakan kodrat dirinya. Hal-hal tersebut dapat mentrigger pelepasan dopamin oleh otak. Ya, dopamin. Dopamin selalu menjadi pedang bermata dua yang selama ini kita tidak sadari. Pada dasarnya, ujian hidup yang kita dapatkan itu selalu berurusan dengan dopamin. Antara ketiadaan dopamin, atau dibanjiri dengan dopamin.

Ketiadaan dopamin meliputi kemiskinan, kekosongan, keberatan, dan kecemasan. Kepenuhan dopamin meliputi kekayaan, kepuasan, kenikmatan, dan kejayaan.

Dua hal tersebut berpotensi menjauhkan kita dari akal sehat kita, dan tentunya juga dari sang pencipta. Pelepasan dopamin itu didapatkan ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan, terutama dalam hal yang mendorong survivabilitas. Uang, secara tidak langsung bisa meningkatkan survivabilitas manusia dengan adanya kapabilitas untuk membeli apa yang mereka inginkan—makanan, minuman, tempat tinggal, dan kemudahan hidup. Hawa nafsu adalah sesuatu yang diciptakan untuk mendorong survivabilitas manusia dengan berhubungan seksual antar-gender. Ketenaran atau popularitas diinginkan manusia karena dengan menjadi populer, survivabilitas manusia menjadi jauh lebih tinggi dengan banyaknya bantuan yang bisa didapatkan.

Tapi, apa yang sebenarnya kita butuhkan untuk bertahan hidup? Kita hanya perlu memenuhi basic human needs seperti makan minum secukupnya. Kita tidak perlu tempat tinggal berharga milyaran rupiah untuk hidup. Kita masih bisa hidup kok di kontrakan satu juta per bulan. Kita juga sejatinya tidak perlu pakaian yang ‘keren’ dan trending. Orang-orang hanya melakukan itu untuk mendapatkan validasi dan memenuhi ekspektasi. Kita masih bisa hidup kok dengan kain yang sederhana.

Manusia tidak perlu melakukan semua itu jika tujuannya bertahan hidup. Bahagia tidak tergantung pada dopamin. Standar perilisan dopamin sudah naik berkat adanya media sosial. “Skinny jeans jelek, baggy jeans bagus,” katanya. Mengapa kita harus memenuhi standar dan ekspektasi orang lain untuk bahagia?

Yang boleh menetapkan standar kapan dopamin dilepaskan dari otak itu hanyalah kita seorang. Ada orang yang senang dan bahagia ketika masih bisa makan hari ini. Ada orang yang dalam sakitnya tetap bersyukur masih bisa hidup hari ini, masih bisa beribadah kepada Allah. Tidak perlu mengikuti standar bahagia orang lain. Ada yang bilang seorang laki-laki minimal mempunyai gaji dua digit per bulan untuk mencukupi kebutuhannya. Di sebagian tanah lainnya di Indonesia, banyak juga seorang bapak yang berpenghasilan dibawah UMR dan tetap bahagia menafkahi keluarganya.

Pada dasarnya, yang membuat standar bagaimana kita bisa bahagia, adalah kita sendiri.