Golongan Islam Pada Masa Keemasan

Setelah Nabi Muhammad wafat, umat islam terbagi menjadi golongan-golongan karena pada fitrahnya manusia mempunyai kebebasan akal sehingga memunculkan potensi perbedaan cara menginterpretasi agama dan pesan-pesan yang dibawakan oleh Nabi.

Ahlus Sunnah Wal-Jamaah

Golongan ini adalah golongan yang mengikuti Al-Quran, Hadits, dan pendapat ulama sebagai pedoman utama. Maturidiyah dan Asy’ariyah adalah dua aliran teologi dari Ahlus Sunnah Wal-Jamaah. Maturidiyah lebih mengedepankan akal dalam memahami ajaran agama. Sementara asy’ariyah lebih membatasi penggunaan akal dan lebih menyeimbangkannya dengan dalil.

Contohnya, menurut Maturidiyah, akal mampu mengetahui batasan baik dan buruk sebelum datangnya wahyu. Sementara itu, Asy’ariyah sesuatu dibilang baik atau buruk itu murni karena perintah Allah.

Mu’tazilah

Kelompok ini sangan mengandalkan logika dan mendewakan akal. Berbeda dengan Maturidiyah yang masih consider dalil dalam banyak hal, Mu’tazilah itu sangat rasionalis sehingga kerap dianggap sesat. Mereka menolak sifat-sifat Allah seperti mendengar melihat karena menyerupai makhluk. Meyakini bahwa Al-Qur’an adalah makhluk.

Syi’ah

Kelompok ini meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib dan keturunannya seharusnya menjadi khalifah yang melanjutkan Nabi Muhammad.

Khawarij

Kelompok yang awalnya ada di barisan pendukung Ali, namun memisahkan diri. Sikapnya ekstrim, ketaatan beribadahnya sangat tekstual. Mudah mengkafirkan orang lain dan menganggap darahnya halal untuk ditumpahkan.