Penyiksaan Imam Abu Hanifah
Abu Hanifah punya nama asli Nu’man bin Tsabit. ia dipanggil Abu Hanifah karena ia mempunyai putra yang bernama Hanifah. Lahir di Kufah pada tahun 80 Hijriah, di tengah-tengah kekuasaan Abdul Malik bin Marwan yang memerintah Bani Umayyah.
Abu Hanifah hidup di dua pemerintahan yang berbeda: Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah. Ia adalah orang yang keras dalam pandangan politiknya dan berani mengkritik jika ada penyelewengan. Jika ada hal yang tidak beres dalam pemerintahan, Abu Hanifah memberikan dukungannya bukan dengan turun berperang bersama dengan pemberontak, namun dengan suara kritikannya dan hartanya.
Pemberontakan terhadap Bani Umayyah
Ada pemberontakan yang dipimpim oleh Zaid bin Ali demi memperjuangkan hak Bani Hasyim (Nabi Muhammad berasal dari Bani Hasyim). Akhirnya, pasukan Zaid dikalahkan oleh pasukan Bani Umayyah yang jumlahnya jauh lebih banyak. Umayyah menyalib jasad Zaid sebagai hukuman pemberontakan.
Sosok Zaid bin Ali memiliki tempat spesial di hati Abu Hanifah, baik ilmu, akhlak, maupun agamanya. Menurutnya, Zaid adalah pemimpin yang hak. Ia juga melihat penyiksaan yang dialami oleh anak dan cucu Zaid. Abu Hanifah tidak bisa diam melihat kezaliman ini.
Ibnu Hubairah, pejabat Umayyah, terus mengintai dan mengamati gerak gerik pemberontakan, terutama kepada ahli fikih dan hadis, karena kebanyakan dari mereka menyatakan tunduk pada keilmuan dan kefakihan Zaid bin Ali. Untuk menguji kesetiaan, beberapa diantara mereka ditawari jabatan. Abu Hanifah menolak. Ibnu Hubairah memaksa, Abu Hanifah tetep menolak.
Penyiksaan
Semua tawaran pemerintah ditolak oleh Abu Hanifah. Tidak ada yang bisa mengalahkan kemantapan hatinya. Lalu ia ditangkap dan disiksa terus-menerus oleh petugas penyiksa agar ia mau menerima jabatan. Sampai sampai petugas penyiksa itu bilang ke Ibnu Hubairah “Lelaki itu akan mati.”
Ibnu Hubairah meminta ahli hadis dan fikih untuk jadi penengah, “Haruskah aku menasihati orang ini (Abu Hanifah) agar memikirkan tawaranku?” Abu Hanifah mengetahui hal itu, “Aku perlu berdiskusi dengan saudara-saudaraku” jawabnya kepada Ibnu Hubairah.
Abu Hanifah dilepaskan. Ia menggunakan kesempatan ini untuk kabur dengan tunggangannya pada 30 Hijriah.
Tentang Ibunya
Abu Hanifah gak peduli apa yang terjadi pada dirinya. Ia tidak lemah dan tidaklah menangis. Namun, ia tak sanggup jika ibunya melihat keadaannya. Cucuran air mata mengalir dari kedua matanya, membuat Abu Hanifah terkoyah karena kesedihan sang ibu.
Pemerintahan Bani Abbasiyah
Sampai akhirnya Bani Abbasiyah mengambil alih pemerintahan, ia berhasil mendapatkan rasa aman dan bertemu kembali dengan murid-muridnya. Awal-awal sih Bani Abbasiyah masih kalem, tapi lama-lama mulai keliatan kezalimannya seiring berjalannya waktu.
Khalifah pertama, Abu Abbas As-Saffah sangat berkepentingan di kalangan ulama. Orang-orang selalu minta fatwa mereka dan menghormati kedudukan mereka. As-Saffah sampe mengumpulkan ulama dan meminta pendapat tentang jalan yang ditempuhnya. Salah satunya, Abu Hanifah, memberikan baiatnya tanpa paksaan.
Waktu itu ada pemberontakan kepada khalifah Al-Mansur. Sampe akhirnya panglima2 perang khalifah disuruh membunuh mereka. Setelah itu, salah satu panglima perang yang bernama Hasan bertanya kepada Abu Hanifah “Engkau sudah tau pekerjaanku, apakah aku masih bisa bertobat?” Lalu Abu Hanifah bilang bisa selama menyesali dan tidak melakukannya lagi.
Al-Mansur menyuruh Hasan untuk membunuh pemberontak baru lagi. Tapi Hasan menolaknya dan bilang udah tobat. Akhirnya Khalifah Al-Mansur marah, ia menduga bahwa Hasan telah dipengaruhi oleh ulama yang melarang pembunuhan. Abu Hanifah menjadi suspectnya.
Penyiksaan Abu Hanifah (lagi)
Sang Khalifah ingin menguji kesetiaan Abu Hanifah dengan menawarkan jabatan qadhi (hakim) kepadanya. Abu Hanifah tau bahwa khalifah menawarkan ini agar ia bisa terus diawasi. Al-Mansur bersumpah untuk tidak akan berhenti sampai Abu Hanifah mau menerimanya.
Abu Hanifah dikenal sebagai orang yang tegas di hadapan penguasa. Ia menolak setiap pemberian atau hadiah. Menurutnya, pemerintah Al-Mansur telah zalim dan uang negara sering dipake untuk hal yang tidak benar.
Al-Mansur mengirimkan hadiah 10 ribu dirham dan budak perempuan ke Abu Hanifah untuk menghormati kefakihan sang imam dan menguji kesetiaannya juga. Tapi Abu Hanifah tetep menolaknya. Abu Hanifah lalu berkata “Aku ini orang yang tidak bisa ngurusin budak perempuan, tidak halal bagiku mengurusi budak yang tak sanggup aku urusi.”
Al-Mansur tidak bisa menemukan celah untuk menghukum Abu Hanifah. Akhirnya, Al-Mansur menawarkan jabatan qadhi kepada Abu Hanifah sebagai bentuk kesetiaannya. Ia akan menjadi qadhi pertama di Bani Abbasiyah. Jika menolak, akan disebarkan bahwa ia tidak senang melakukan tugas demi kemaslahatan umat.
Abu Hanifah menolak. Akibatnya, ia dikurung dan disiksa (lagi). Al-Mansur berkata “Mengapa engkau menolak hadiah dariku?” Abu Hanifah menjawab “Aku tidak pernah menolak sesuatu yang dihadiahkan bila itu berasal dari harta pribadinya. Tapi, apa yang dihadiahkan Amirul Mukminin padaku berasal dari harta Baitul Mal umat islam. Dan aku tidak punya hak atas Baitul Mal mereka. Karena aku bukan orang yang berperang bersama mereka, bukan juga anak-anak mereka, bukan juga kaum miskin.”
Dalam perseteruan antara Abu Hanifah dan Al-Mansur, Abu Hanifah pernah berkata “Seandainya aku menjadi qadhi dan terpaksa membuat keputusan yang menentangmu, kemudian engkau mengancamku dengan pilihan antara dibenamkan ke sungai Eufrat atau disuruh membuat keputusan hukum, aku akan memilih dibenamkan. Aku bukan orang yang pantas untuk itu.” Al-Mansur kemudian berkata “Engkau bohong! Engkau orang yang pantas.”
Penyiksaan sebelum wafat
Setelah Abu Hanifah dipenjara dan diperlakukan kasar, Al-Mansur membebaskannya, namun dilarang memberikan fatwa, mengadakan pengajaran, dan keluar dari rumah. Itulah keadaan Abu Hanifah hingga wafat.
Pendapat lain mengatakan bahwa ia diracun dan terbunuh.