Kenapa Dunia Ini Dilaknat?
Karena sifatnya menipu dan bisa menjauhkan kita dari Allah dan akhirat. We’re playing a long game here. Kita sedang berada di cerita prolog, dimana jiwa disatukan oleh jasad, dikendalikan oleh otak, dan mendapat kebebasan tanpa batas.
Ketika kita diciptakan, kita diberikan satu quest oleh Allah: beribadah kepadanya. Itu sudah tertulis jelas di ayat yang terkenal dan sering diucapkan di kajian manapun. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku, Adz-Dzariyat ayat 56.
Free will, salah satu kelebihan yang dimiliki manusia, ternyata juga menjadi tantangan. Kita punya dua pilihan, taat atau menyimpang. Buku panduan sudah disediakan (Al-Quran). Lengkap. Kurang mudah apa lagi? Padahal tinggal menjalani rukuk islam, menaati perintah, dan menjauhi larangan. Life is easy. Why would we make it so complicated?
Babi itu haram. Pacaran itu haram. Meninggalkan sholat itu haram. It’s crystal clear already, are we blind or what?
Menuntut ilmu itu wajib. Menyumbangkan harta itu baik. Meminta maaf itu harus. Kenapa begitu sulit dilakukan? Hadir di majelis ilmu itu lebih baik dari sholat sunnah seribu rakaat. menjenguk seribu orang sakit, dan menyolati ribuan jenazah.
Orang miskin yang taat—rela mengeluarkan hartanya di jalan Allah—itu derajatnya lebih tinggi dibanding orang kaya yang juga mengeluarkan hartanya di jalan Allah dengan jumlah yang sama. Tapi, rasionya beda. Seperti kisah perlombaan antara kelinci dan kura-kura. Kelinci mempunyai probabilitas yang tinggi untuk memenangkan balapan itu. Tapi ia menyombongkan diri dan terlena, sehingga kalah dari kura-kura yang pelan tapi istiqamah.
Sementara kita, sebagai orang-orang yang berprivilege—orang yang punya kebebasan, punya waktu, tenaga, dan uang—tidak memanfaatkan semua hal itu untuk menamatkan game ini. Bukannya memainkan main story dari game itu, kita malah main side quest yang tidak ada manfaatnya ke progress tamatnya game. Kalau tidak punya uang, at least sumbanglah dengan tenaga. Kalau tidak punya waktu, at least sumbanglah dengan uang. Kalau tidak punya semuanya, niat baikmu sudah mewakilkan dan Allah maha tau.
Allah menciptakan otak kita dengan segala kesempurnaannya. Otak kita dapat melepaskan dopamin yang berguna untuk meningkatkan survival instinct. Untuk membedakan mana yang enak, mana yang gak enak. Semakin kesini, we crave more something pleasurable, yang kadang berujung jadi hal yang tidak baik buat kita. Semua sudah dibatasi oleh agama. Kenapa kita selalu sibuk mencari hal-hal yang di luar batas?
Kita bisa happy tanpa perlu narkoba. Kita bisa puas tanpa seks bebas. Kita bisa tenang tanpa perlu alkohol. Kita bisa bahagia tanpa perlu pengakuan orang lain.
Semua sudah diatur dan dibatasi. Kalau orang-orang mau mempelajarinya lebih dalam lagi, akan lebih paham mengapa manusia dibatasi seperti itu, agar tidak merusak.
Instead of constantly seeking more, we can consider seeking less. Bersyukur adalah kunci.
Idk what I’m writing lol, just random thoughts tengah malem aja.