Kenapa Orang Beli Labubu?
Karena pengaruh media sosial yang membuat orang-orang fomo untuk membeli labubu, adalah iklan gratis buat pop mart. Media sosial itu sendirilah yang menciptakan “cultural value” dari labubu.
Ketika sebuah produk tanpa value tiba-tiba mempunyai posisi di kehidupan sosial, tumbuhlah value dari produk tersebut.
Jadi, sebenarnya labubu itu dianggap sebagai “objek media sosial” karena hubungannya itu sangat erat. Posting foto, video, dan momen bersama labubu menjadi tren. Mengupload foto labubu artinya mengumumkan bahwa kamu culturally relevant dan bisa menjadi up-to-date dengan apa yang happening di social media.
Mengoleksi labubu juga bisa menunjukkan tanda kedudukan atau kekayaan dari seseorang.
Labubu dijual dalam bentuk mystery box itu sengaja dan intentional. Efek psikologis dari mystery box itu sama kayak mesin slot dan like social media, it’s rewarding.
Oh iya, adiksi membeli blind box labubu itu efeknya mirip dengan berjudi loh!
Banyak hal selain labubu yang valuenya juga bergantung kepada persepsi sosial. Seperti fashion, perhiasan, tattoo, hair style, art, dan home decoration juga bergantung pada persepsi sosial.
I wonder if Labubu acts similarly on our perception of consumption and capitalism itself - the pointless purchase of Labubu(s!) is so clearly impulsive, addictive, wasteful and alienated from the processes of making that it conceals that the same applies to nearly all consumption today.