Tentang Takdir
Source video: https://www.youtube.com/watch?v=2YN32Nk1x4k
Video tersebut adalah seri podcast yang berjudul “Escape” yang diisi oleh Ustad Felix, Raymond Chin, Koi, dan Verren.
Takdir itu ada dua: takdir yang tidak bisa diubah (mubram) dan takdir yang bisa diubah melalui usaha (muallaq). Takdir yang tidak bisa diubah itu contohnya adalah kapan kita dilahirkan, genetika (lahir sebagai ras tertentu), waktu kematian, dan sebagainya. Ini tidak akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah.
Sementara itu, takdir yang bisa kita ubah itu hal yang bergantung dengan sebab-akibat dunia, contohnya kesehatan (tergantung gaya hidup) dan kekayaan (tergantung kerja keras). Karena ini pilihan, akan diminta pertanggungjawaban atas setiap pilihan kita oleh Allah.
Kita tidak bisa mempertanyakan Allah kenapa kita terlahir di Indonesia, kenapa kita lahir sebagai orang berkulit asia. Kita tidak bisa komplain, karena itu sudah kehendak Allah. Komplain hanya akan membuat kita tidak bahagia. Yang bisa kita lakukan adalah memperlakukan apa yang sudah Allah berikan sebaik mungkin.
Sementara itu, kita harus terus memperjuangkan hal yang bisa diubah. Kata Ustad Felix, itu bukanlah takdir kalo masih bisa diubah. Terkadang, kita misinterpret takdir dengan yang bukan takdir. “Ini sudah takdir kalau aku miskin,” bukan, ini mindset yang salah. Kemiskinan dan kekayaan adalah sesuatu yang bisa diubah.
Setiap orang itu akan diuji sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Jika Allah memberikan suatu ujian kepada hambanya suatu ujian yang tampak impossible, artinya itu sebenarnya masih dapat dilalui oleh hamba tersebut. Ustad Felix mengatakan, ia mungkin bisa dengan mudahnya menolak kalau ditawarkan jabatan atau uang, tapi ia lemah dengan wanita. Itulah ujian untuknya.
“Kenapa ada orang yang kaya dan ada orang yang miskin, bukannya lebih mudah ujian orang kaya?”
Jadi kaya itu ujian, miskin juga ujian. Jadi pintar itu ujian, jadi bodoh juga ujian. Semua manusia dikasih takaran ujian yang adil. Orang pintar diuji untuk tidak menggunakan ilmunya untuk kejelekan dan tidak riya, sementara orang kaya diuji untuk tidak tergoda menggunakan hartanya kepada hal-hal yang haram dan tidak sombong.
Sebelum adanya manusia, sebelum adanya Adam dan Hawa, semua makhluk diberikan pilihan untuk turun ke bumi mengemban ujian yang diberikan Allah, dengan imbalan surga dan seisinya. Tapi hanya manusia setuju untuk memikul amanat itu. Dari Al-Ahzab ayat 72:
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan mampu melaksanakannya. Lalu, dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya ia (manusia) sangat zalim lagi sangat bodoh.”
Karena kita sudah mengemban amanat ini di dunia, kita harus mempertanggungjawabkannya.
Kenapa kita tidak diciptakan setara? Karena disitulah letak ujiannya.
Kalau Allah maha tau semuanya, maha tau masa depan, tentang nasib setiap manusia yang akan masuk surga atau neraka, kenapa Allah membiarkan manusia masuk ke neraka? Karena manusia sudah diberikan pilihan dan akal, mereka punya kontrol atas diri mereka sendiri. Allah yang mengetahui masa depan itu adalah konsekuensi dari dirinya sebagai Tuhan yang maha tau.